Urgensi Penayangan (Ulang) Film Pengkhianatan G30S/PKI

Kalender menunjukkan tanggal pertengahan September, suatu waktu di Indonesia yang setiap tahunnya memiliki pembahasan yang (kurang lebih) sama, yaitu terkait Gerakan 30 September/PKI. Tetapi, ada yang menarik di tahun ini. Jenderal Gatot Nurmantyo memberi instruksi untuk mengadakan nobar film Pengkhianatan G30S/PKI. Beliau mengatakan bahwa tujuan penayangan kembali film Pengkhianatan G30S/PKI adalah agar seluruh generasi mengetahui bahwa Indonesia pernah punya sejarah yang kelam, dan jangan sampai sejarah itu berulang.

Padahal, penayangan film Pengkhianatan G30S/PKI telah berhenti secara nasional pada Oktober 1998. Dan ironisnya adalah salah satu kelompok yang lantang bersuara untuk menghentikan penayangan film Pengkhianatan G30S/PKI adalah Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara Republik Indonesia.
Menurut saya sendiri, penayangan film Pengkhianatan G30S/PKI adalah suatu hal yang tidak perlu. Teknologi sudah berkembang jauh, ada banyak cara alternatif lain yang dapat dipilih untuk mengetahui sejarah ketimbang harus menonton film yang menurut saya tergolong sadis.

Berikut adalah analisis saya mengapa penayangan (kembali) film Pengkhianatan G30S/PKI harus dipertimbangkan lagi:

1. Banyaknya konten kekerasan pada film tersebut
Dalam film ini, menurut saya salah satu hal yang paling ditonjolkan adalah sisi kekerasan dan sadisnya (pembacokan, penyiksaan, dan darah). Terutama saat scene penyiksaan jenderal-jenderal di Lubang Buaya. Pada masa Orde Baru, film Pengkhianatan G30S/PKI adalah tontonan wajib bagi seluruh siswa, SD hingga SMA. Pemerintah bekerja sama dengan sekolah melakukan penayangan film Pengkhianatan G30S/PKI. Padahal, menurut riset psikolog L. Rowell Huesmann dan Leonard Eron pada tahun 1980 yang mengatakan bahwa anak yang pada saat SD menonton adegan-adegan kekerasan cenderung lebih agresif ketika mereka remaja, dan berdasarkan sampel yang mereka teliti, anak-anak yang banyak menonton adegan kekerasan saat umur 8 tahun memiliki kemungkinan lebih besar untuk ditangkap polisi karena tindakan kriminal.

Pada suatu kesempatan, Dr. Gail Gross juga mengatakan bahwa anak-anak yang banyak menonton tindakan kekerasan sulit membedakan mana yang asli (realita) dan mana yang bukan, anak-anak tersebut juga cenderung untuk mencontoh kekerasan-kekerasan yang mereka tonton. Menonton kekerasan juga membuat adanya perubahan kimiawi di otak, anak-anak yang menonton tindakan kekerasan (terutama adegan sadis) membuat otak mereka merespon bahwa mereka sedang mengalami kekerasan (yang mereka tonton) itu sendiri.

Kita kenal Indonesia sebagai salah satu negara yang agak keras terkait game online melalui Kemendikbud dan KPAI. Sehingga saya berharap mereka dapat melakukan mediasi dengan Mendagri (selaku yang memberi izin awal untuk melakukan penayangan) dan TNI (yang melakukan penayangan ulang) karena dampak yang diberikan oleh film G30S/PKI sama dengan game online yang mereka anggap bahaya seperti Call of Duty, Point Blank, Grand Thef Auto, dan lain-lain.

2. Ketidakakuratan cerita dalam film.
Dalam suatu kesempatan, dr. Liem Joe Thay yang kemudian lebih dikenal dengan Prof Arief Budianto, kini telah almarhum, Guru Besar Kedokteran Forensik UI pernah melakukan suatu wawancara dengan majalah D&R.

Ia adalah seorang dokter non-militer yang saat itu diminta bergabung dengan Tim Kedokteran ABRI untuk memeriksa mayat enam perwira tinggi dan satu perwira pertama korban, pada malam 4 Oktober sampai dini hari 5 Oktober 1965.

Bagian terpenting dari wawancara itu yang juga dikutip oleh Julius Pour dalam bukunya Gerakan 30 September, Pelaku, Pahlawan dan Petualang (Penerbit Buku Kompas, 2010) adalah ketika Prof Arief menyatakan, “Satu lagi, soal mata yang dicongkel. Memang, kondisi mayat ada yang bola matanya copot, bahkan ada yang sudah kontal-kantil. Tetapi itu karena sudah tiga hari terendam air di dalam sumur dan bukan karena dicongkel paksa. Saya sampai periksa ulang dengan saksama tapi matanya dan tulang-tulang sekitar kelopak mata. Apakah ada tulang yang tergores? Ternyata tidak ditemukan…”

Wartawan yang melakukan wawancara tersebut (Imelda Bachtiar) lalu bertanya pada Prof Arief, mengapa di film ada adegan penyiksaan yang sadis dengan mencungkil bola mata? “Itu semua tidak ada, pemeriksaan mayat membuktikannya. Film itu kan propaganda Orde Baru,” demikian Prof Arief berujar. Hal tersebut membuktikan bahwa apa yang terdapat di dalam di film tidak (seluruhnya) sesuai dengan keadaan yang terjadi di masa lampau.

Alasan lainnya adalah sejarawan LIPI Asvi Warman Adam yang mengatakan bahwa mantan KSAU Marsekal Udara Saleh Basarah meminta penghentian penayangan film. Asvi beranggapan film ini menyudutkan korps Angkatan Udara (seperti stigma yang muncul setelah film tersebut ditayangkan; bahwa Halim adalah sarang pemberontak). Salah satu korbannya adalah Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Udara TNI (Purn.) Omar Dhani yang harus dipenjara selama 29 tahun karena dituduh terlibat G30S. Kesempatan untuk meluruskan kenyataan dan menghilangkan stigma negatif terhadap AURI baru terbuka saat lengsernya Soeharto. Menteri Penerangan Letjen TNI Yunus Yosfiah dan Menteri Pendidikan Nasional Juwono Sudarsono setuju atas gagasan tersebut sehingga pada Oktober 1998 penayangan film Pengkhianatan G30S/PKI pun dihentikan secara nasional.

Ada sebuah frasa yang mengatakan, “The winner writes the story.”. Film Pengkhianatan G30S/PKI adalah salah satu contoh negara (dalam hal ini rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto) memaksakan “sejarah yang benar” menurut perspektif mereka kepada masyarakat Indonesia.

Menurut saya, penayangan kembali film G30S/PKI sah-sah saja, karena masyarakat berhak mengetahui semua “versi sejarah” yang ada, terlepas keberpihakkan kubu pada “versi sejarah” tersebut. Saya yakin dengan berkembangnya teknologi dan mudahnya mendapatkan informasi, masyarakat juga semakin cerdas untuk menyaring informasi tersebut. Saya percaya bahwa pelarangan terhadap suatu versi sejarah tetapi justru mengunggulkan versi sejarah lainnya adalah salah satu cara paling ampuh untuk mematikan upaya pembelajaran berpikir kritis di kalangan masyarakat. Karena sejatinya sejarah selalu memiliki dimensi cerita berbeda, tergantung dari penafsiran, para sumber, dan sebagainya. Tetapi jika ada paksaan (lagi) untuk menonton film Pengkhianatan G30S/PKI setiap tanggal 30 September, maka saya menolak keras hal tersebut.

Demikian tulisan pendek ini saya buat sebagai sebuah saran, dari seorang anak yang lahir jauh setelah peristiwa G30S/PKI itu terjadi. Saya berharap semoga keluarga korban genosida 1965 segera mendapatkan keadilan.

Dhiya’ Rafiq Azka
Bandung
Jumat, 22 September 2017, 02.34 A.M.

Sumber:
http://www.apa.org/action/resources/research-in-action/protect.aspx diakses tanggal 22 September 2017
http://www.huffingtonpost.com/dr-gail-gross/violence-on-tv-children_b_3734764.html diakses tanggal 22 September 2017
http://nasional.kompas.com/read/2017/09/20/11392931/kisah-seorang-anak-smp-di-tahun-1984-dan-film-pengkhianatan-g30spki?page=all diakses tanggal 22 September 2017
https://nasional.tempo.co/read/news/2017/09/20/078910954/kontras-jangan-ada-unsur-pemaksaan-penayangan-film-g-30-s-pki diakses tanggal 22 September 2017
https://kumparan.com/ardhana-pragota/pemutaran-dan-penghentian-film-g30s-pki diakses tanggal 22 September 2017
http://historia.id/film/orang-orang-di-balik-penghentian-penayangan-film-pengkhianatan-g30spki diakses tanggal 22 September 2017
https://tirto.id/panglima-tni-akui-nobar-film-g30s-pki-atas-perintahnya-cwSw diakses tanggal 22 September 2017
https://news.detik.com/berita/3199038/rilis-15-game-berbahaya-bagi-anak-kemendikbud-harus-sediakan-game-edukatif diakses tanggal 22 September 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s